hakekat pendidikan

ESENSI PENDIDIKAN INDONESIA

Esensi Pendidikan Indonesia adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah hidupnya ke arah yang lebih baik.Pendidikan dapat dilakukan dimana saja dan berlaku sepanjang hayat ( long life education ).Pendidikan menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga negara,bukan hanya tanggung jawab sekolah atau guru.Tetapi orangtua ,lingkungan,pemerintah juga ikut bertanggung jawab untuk mengembangkan pendidikan.Pendidikan dilihat dari filsafat didasarkan pada tiga aspek yaitu aspek ontologis.epistemologis dan aksiologis.Aspek ontologis dari pendidikan adalah berupa hakekat pendidikan itu sendiri.Aspek epitemologis pendidikan adalah berupa usaha yang dilakukan untuk memperoleh pendidikan itu ,sedangkan Aspek aksiologisnya adalah berupa kebermanfaatan/kegunaan pendidikan itu sendiri.

1.ESENSI PENDIDIKAN DITINJAU DARI ASPEK TUJUAN

Tujuan pendidikan indonesia seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD’45 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila.Dari tujuan tersebut berarti bukan hanya menciptakan manusia-manusia yang cerdas secara kognisi ,tetapi kecerdasan yang berbudi pekerti sebagaimana yang diamanatkan dalam Pancasila.Jadi Esensi Pendidikan indonesia adalah mencapai masyarakat indonesia yang memiliki pengetahuan dan keterampilan serta memiliki etika dan moralitas yang tinggi.Etika dan moral yang harus dimiliki adalah seperti berikut :

a.Kejujuran

Setelah mengecap pendidikan ,terlebih pendidikan tinggi diharapkan anak sudah memiliki berbagai pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan penuh kejujuran.Lebih dari itu anak juga harus bersikap jujur dalam kehidupannya sehari-hari baik dalam kegiatan di sekolah maupun dalam kehidupannya di lingkungan keluarga dan masyarakat sehingga menjadi  suatu karakter.

b.Keadilan

Bila kita lihat sila ke dua dan kelima dari Pancasila ,maka kita harus bersikap adil kepada semua orang.Melalui pendidikan diharapkan mampu untuk bertindak adil.Dalam realita kehidupan masyarakat indonesia sekarang ini sungguh amat memperihatinkan,dimana sila kedua dan sila kelima dari Pancasila itu seakan – akan tak berarti lagi.Nilai nilai yang terkandung dalam kedua sila tersebut seakan hilang ditelan zaman.Sifat materialistik sudah menguasai hati dan nurani manusia indonesia umumnya.Keadilan yang kita harapkan hanya sebagai wacana belaka.Hal ini dapat kita lihat dari peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini,seperti dunia hukum yang selalu berpihak kepada material dari pada esensi hukum itu sendiri.Untuk itu maka diharapkan dalam dunia pendidikan supaya lebih menekankan pembentukan kepribadian anak tanpa mengurangi pentingnya penanaman kompetensi maupun keterampilan kognisinya,sehingga kelak akan tercipta sifat-sifat manusia indonesia yang cinta keadilan dan bertindak adil dalam kehidupannya.

c.Disiplin

Tujuan pendidikan indonesia juga untuk menanamkan sikap disiplin kepada anak.Melalui pendidikan diharapkan manusia indonesia memiliki kedisiplinan dalam hidupnya terutama dalam pekerjaannya.Dengan sikap disiplin ini diharapkan akan menambah efektifitas dan efisiensi kerja .

d.Memiliki rasa toleransi

Masyarakat indonesia yang berbhineka tunggal ika harus tetap dijaga demi kesatuan dan persatuan negara indonesia.Untuk itu melalui pendidikan ini diharapkan semua masyarakat indonesia dapat saling hormat-menghormati.

Tujuan pendidikan secara filsafat dilihat berdasarkan tiga aspek yaitu  aspek ontologis,epistemologis dan aksiologis.

Aspek ontologis tujuan pendidikan yaitu mencapai manusia indonesia seutuhnya dengan meningkatkan harkat dan martabat manusia setinggi-tingginya sehingga manusia menjadi hidup bahagia.Untuk mencapai tujuan ini membutuhkan proses belajar. Melalui proses belajar inilah diharapkan tumbuh menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur,sehat jasmani dan rohani dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sebaik mungkin.

Aspek epistemologis tujuan pendidikan yaitu berupa usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut.Usaha –usaha yang dilakukan itu berupa proses belajar yang dilakukan secara sadar, baik belajar pada lembaga pendidikan formal maupun non formal.Melalui proses belajar ini diharapkan manusia mempunyai keterampilan dan etika dalam uasah memenuhi kebutuhan hidupnya menuju tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri.

Aspek aksiologis dari tujuan pendidikan yaitu berupa nilai, manfaat atau kegunaan dari tujuan pendidikan itu sendiri bagi manusia.Nilai dan manfaat dari tujuan pendidikan itu dapat berupa etika dan moralitas mapun berupa keterampilan yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhannya.Jadi aspek aksiologi dari tujuan pendidikan adalah kebermanfaatan atau kegunaan tujuan pendidikan.

2.Esensi Pendidikan ditinjau dari aspek Pendidik

Esensi pendidikan jika dilihat dari aspek Pendidik yaitu mengajar,melatih,mengarahkan anak keaarah yang lebih baik.Mengajar berarti memberikan dan melatih berbagai keterampilan hidup,sedangkan mendidik berarti memberikan dan menanamkan hal –hal yang bersangkutan dengan budi pekerti.Jadi hakikat dari pendidikan jika dilihat dari aspek pendidik adalah merupakan usaha sadar yang kita lakukan untuk merubah sikap anak didik dari perilaku-perilaku yang kurang berkenan ke arah yang lebih baik sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.Dengan demikian mendidik lebih ditekankan pada pembiasaan diri sianak untuk selalu bersikap positif.

Mendidik bukan saja tugas seorang guru tetapi pada hakekatnya mendidik itu tanggungjawab kita semua sebagai warga negara.Karena mendidik tidak hanya dilakukan di sekolah tetapi juga dalam keluarga dan di lingkungan melalui sikap dan perilaku kita yang dilihat dan disaksikan oleh anak-anak.Profesi pendidik dikenal dengan sebutan guru.Sebagai guru hendaklah kita menjadi contoh dan tauladan bagi anak didik dan juga bagi masyarakat.Pada era globalisasi sekarang ini banyak guru hanya sebagai pengajar.Hal ini tidak dapat kita pungkiri karena banyak hal yang menjadi penyebabnya.Sebagai contoh dalam realita kehidupan sekarang ini guru dibebani dengan beban materi pelajaran yang harus dituntaskan pada waktu tertentu ,sehingga guru lebih mementingkan kognisinya sehingga peerhatian terhadap etikanya jadi berkurang.Hal inilah yang menyebabkan banyaknya masyarakat indonesia yang IQ nya tinggi tetapi EQ dan SQ nya sangat rendah.

Dasar ontologis dari Pendidik ialah orang – orang yang berperan dalam pembaruan, pemimpin dan pendukung tercapainya tujuan pendidikan.Pendidik harus mampu menjadi contoh dan tauladan bagi anak didik,masyarakat ,bangsa dan negara.Pendidik dalam sehari-hari disebut guru.Untuk menjadi guru tentunya memiliki syarat –syarat sesuai dengan perannya sebagai pendidik.Selain memiliki ilmu juga harus berbadan sehat,berjiwa sehat dan memahami psikologi.

Dasar Epitemologis dari Pendidik ialah kepropesionalan dari para pendidik tersebut.Dalam hal ini pendidik harus memiliki cara ataupun metode dari mendidik.Kwalitas pendidik sangat menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan.

Sedangkan dasar Aksiologis Pendidik yaitu kebermanfaatan dari pendidik itu sendiri.Untuk itu guru sebagai pendidik hendaklah profesional agar dirinya sebagai pendidik bermanfaat bagi para peserta didik dengan kata lain pendidik harus menjadi panutan.

3.Esensi Pendidikan ditinjau dari Peserta didik

Peserta didik pada hakekatnya adalah orang –orang atau individu-individu yang akan diubah oleh para pendidik.Mereka ini adalah orang yang belajar secara terus menerus untuk mengubah kehidupannya.Memang semua orang belajar sepanjang hidupnya ,termasuk guru atau pendidik. Peserta didik berasal dari berbagai latar belakang,baik latar belakang keluarga,ekonomi ,pendidikan,sosial dan latar belakang budaya .Potensi anak didik juga berbeda yang menyebabkan perbedaan karakter diantara anak didik.

Peserta didik yang baik adalah peserta didik yang mau menjalankan dan melaksanakan semua tugas yang dibebankan kepadanya serta punya keinginan dan motivasi untuk belajar sehingga dapat mengembangkan pribadinya.Seorang pelajar haruslah memiliki berbagai kemampuan dalam belajar seperti berikut ini : 1.Kemampuan belajar yang baik (learning to learn ),2.Kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya (learning to know ),3.Kemampuan untuk melakukan (learning to do ), 4.Kemampuan untuk menemukan jati dirinya (learning to be ) dan ,5.Kemampuan untuk hidup rukun dengan orang lain (learning to belive together ).Selain dari pada itu seorang peserta didik juga harus dapat menjaga kesehatan fisiknya agar mampu belajar dengan baik.Untuk itu peserta didik juga harus memenuhi kebutuhan gizinya.

Peserta didik dapat dikelompokkan berdasarkan perkembangannya yaitu :

a.Masa balita ,masa persiapan untuk menhadapi lingkungan yang lebih luas.(0-5 tahun )

b.Masa kanak-kanak yaitu masa dimana anak mulai belajar simbol dan konsep.(6-12 tahun )

c.Masa remaja yaitu masa yang labil dimana terjadi peralihan masa anak-anak ke masa    dewasa. (13-21 tahun )

d.Masa dewasa,yaitu masa dimana anak mulai mencari pasangan hidupnya atau timbulnya     keinginan untuk berkeluarga.

e.Masa tua,yaitu masa mulai menurunnya berbagai fungsi dalam tubuh manusia dan rentan    dengan berbagai macam penyakit.

Dasar ontologis dari peserta didik yaitu orang – orang atau individu-individu yang ingin mengubah hidupnya melalui proses pembelajaran baik pembelajaran formal maupun non formal.Pendidikan sangat berpengaruh dalam membimbing peserta didik menuju kedewasaan.Setiap bimbingan yang diberikan akan mempengaruhi sikap dan perilaku peserta didik,sebab manusia dilahirkan dalam keadaan polos dan pendidikanlah yang membentuknya.

Dasar epitemologi dari peserta didik ialah kemauan yang keras untuk belajar .Sebab tanpa adanya kemauan dan kesadaran untuk mengubah hidupnya proses belajar tak akan efisien,sehungga tujuan pendidikan itu akan sulit tercapai.

Dasar Aksiologis dari peserta didik yaitu kebermanfaatan dari peserta didik melalui ilmu dan keterampilan yang dimiliki melalui proses pendidikan,artinya peserta didik harus menjadi orang yang berguna bagi keluarga,lingkungan, nusa dan bangsa.

4.Esensi Pendidikan ditinjau dari Materi

Materi pendidikan adalah bahan ajar yang akan diberikan kepada peserta didik atau bahan ajar yang harus dikuasai peserta didik.Bahan ajar ini berupa keterampilan dan dapat berupa budi pekerti.Keterampilan berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup,sedangkan budi pekerti merupakan etika dalam menjalani hidup.Untuk mencapai kecerdasan berupa keterampilan dan kecerdasan budi pekerti perlu cara ataupun alat.Cara atau alat ini harus dikuasai oleh guru sebaagai pendidik dan pengajar.Agar alat maupun cara yang digunakan berhasil guna maka perlu mempertimbangkan hal-hal berikut yaitu apa tujuan yang ingin dicapai ,alat apa yang tepat untuk digunakan,bagaimana cara menggunakan alat tersebut dan siapa peserta didiknya.

Beberapa cara yang dapat digunakan yaitu:

a.Pembiasaan

Pembiasaan maksudnya mengajari anak untuk membiasakan diri bersikap positip.Anak-anak yang masih kecil biasanya cepat lupa dengan apa yang dirasakan dan dilakukan.Untuk itu guru sebagai pendidik berusaha mengingatkannya untuk dilakukan sesuai dengan yang diharapkan sehingga anak-anak akan semakin terbiasa dengan hal tersebut yang akhirnya menjadi karakter.Jika anak-anak lupa lagi guru harus dapat menegurnya dengan penuh kasih sayang.

b.Pengawasan

Untuk membiasakan anak terhadap hal-hal yang kita inginkan perlu pengawasan,sebab seperti yang saya ungkapkan terdahulu bahwa anak mudah lupa dengan apa yang diucapkan dan dilakukannya.Sebagai pendidik kita harus tetap mengawasinya agar apa yang kita inginkan dapat tercapai.Melalui pengawasan kita dapat menanamkan hal hal yang baik dan bisa dilakukan sekaligus kita dapat melarang hal-hal yang tidak baik dan tidak bisa dilakukan.

c.Perintah

Dalam membiasakan  anak untuk bersikap baik perlu ada perintah untuk menguatkan ,agar anak didik semakin terbiasa untuk hal hal yang ingin kita capai.Dengan adanya perintah ini diharapkan anak semakin terbiasa ,kemudian akan menjadi karakter.

Dasar ontologis dari materi pendidikan adalah bahan ajar yang sudah disusun dalam suatu kurikulum.Bahan-bahan inilah yang akan dipelajari untuk dikuasai peserta didik.Kurikulum ini disusun secara nasional oleh departemen pendidikan dan kebudayaan.

Dasar Epitemologis dari materi pendidikan adalah bagaimana penyusunan materi pelajaran atau kurikulum itu untuk dapat dipahami dengan baik ,sehingga dapat diajarkan dan dijabarkan dengan baik.Misalnya penjabaran kurikulum ke dalam silabus,membuat program pengajaran semester maupun dalam pembuatan batas-batas pengajaran.

Dasar Aksiologis dari Materi pendidikan adalah nilai atau manfaat yang dapat kita rasakan dari materi itu untuk kehidupan manusia.Seperti halnya zaman sekarang adanya otonomi pendidikan.Setiap daerah punya kebebasan menjabarkan kurikulum sesuai dengan kepentingan di daerah masing-masing.

5.Esensi Pendidikan ditinjau dari Proses Belajar Mengajar

Esensi Pendidikan ditinjau dari Proses Belajar Mengajar yaitu perjalanan pembelajaran berlangsung.Dimana antara pendidik dan peserta didik terjadi interaksi guna mencapai tujuan proses pembelajaran.Agar proses belajar mengajar berjalan efektif maka perlu adanya strategi pembelajaran yang baik.Strategi ini dirancang sebelum pembelajaran berlangsung.Proses belajar mengajar dapat berjalan dengan berbagai cara seperti ceramah,tanya jawab,diskusi,praktek dan bentuk lain di lingkungan sekitar.

Dasar ontologis dari proses belajar mengajar adalah terjadinya interaksi antara peserta didik dengan pendidik.Dalam hal ini perlu adanya keaktifan dan kreatifitas serta kesungguhan dari peserta didik untuk belajar.Adanya interaksi timbal balik antara pendidik dan peserta didik akan mengefektifkan proses belajar mengajar.

Dasar Epistemologis Proses belajar mengajar adalah bagaimana proses belajar mengajar itu berjalan dengan baik atau efektif.Untuk itu perlu berbagai metode dan media belajar sehingga peserta didik semakin tertarik untuk belajar.Dengan demikian akan mempercepat tercapainya tujuan pembelajaran.Selain itu perlu alat-alat belajar yang menunjang,seperti buku,alat peraga dan media lainnya.

Dasar Aksiologi proses belajar mengajar adalah adanya etika dalam proses pembelajaran yang harus ditaati oleh peserta didik dan pendidik demi tercapainya proses belajar mengajar yang aman dan tertib.Situasi belajar mengajar yang aman dan tertib akan membawa dampak positip bagi para peserta didik.

6.Esensi Pendidikan ditinjau dari Alat Pendidikan

Esensi Pendidikan ditinjau dari alat pendidikan adalah berupa benda maupun langkah –langkah yang diambil dalam proses belajar mengajar,contohnya peraturan atau tata tertib.Alat ini dapat bersifat preventif maupun represip. Alat preventip merupakan pencegahan terhadap hal-hal yang kurang baik,sedangkan alat represif merupakan penyadaran akan tugas –tugasnya sebagai peserta didik.

Bentuk ontologis dari alat pendidikan adalah peraturan-peraturan atau tata tertib yang berlaku di lembaga tersebut.Tujuan dari peraturan ini adalah untuk mencegah peserta didikmelakukan hal-hal yang tidak baik dan menyadarkan peserta didik akan tugas dan tanggungjawabnya sebagai peserta didik.

Bentuk Epistemologis dari alat pendidikan adalah bagaimana cara yang dapat kita buat agar peserta didik dapat menaati peraturan itu,sehingga proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik.Contohnya adalah sikap tegas dari pendidik.

Sedangkan bentuk Aksiologis dari Alat Pendidikan itu ialah bagaimana alat pendidikan tersebut dapat berguna bagi peserta didik ,sehingga menciptakan rasa nyaman bagi peserta didik dalam belajar.Kondisi yang nyaman akan menambah semangat belajar.

7.Esensi Pendidikan ditinjau dari aspek Evaluasi Pendidikan

Esensi pendidikan ditinjau dari aspek Evaluasi Pendidikan adalah alat untuk mengukur sejauh mana prses belajar mengajar berhasil mengubah peserta didik dari tidak tau menjadi tau,dari tidak biasa menjadi biasa,bahkan dari sikap yang kurang baik ke sikap yang lebih baik.

Ada tiga hal yang dilihat dalam evaluasi yaitu input ,out put dan transformasi.Input adalah peserta didik apakah sudah mengalami perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik atau tidak.Out put yaitu sampai dimana capaian atau perolehan peserta didik melalui proses pembelajaran sedangkan Transformasi adalah bagaimana guru,media belajar dan sarana lainnya menunjang proses belajar.

Bentuk ontologis dari Evaluasi adalah pengukuran akan kemampuan yang sudah diperoleh peserta didik,apakah dalam bentuk kognisinya maupun dalam etika atau sikapnya.Jadi sebenarnya ontologis dari Evaluasi ini adalah untuk mengetahui keberhasilan belajar dari peserta didik,sehingga dapat menentukan langkah beriktnya.

Bentuk Epitemologis dari Evaluasi Pendidikan adalah bagaimana evaluasi itu benar –benar menjadi alat ukur keberhasilan belajar ,sehingga dapat mendiagnosa kekurangan-kekurangan untuk diperbaiki kemudian.Jadi perlu dipahami metode/cara penyusunan bentuk evaluasi yang sesuai.

Sedangkan bentuk Aksiologisnya adalah evaluasi dapat digunakan sebagai dasr penentuan akan strategi belajar mengajar berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: